Terimakasih atas kunjungan anda

Selasa, 27 September 2016

Teka-teki omong kosong

Kau
Tak usah bermain teka-teki denganku
Aku hanya butuh kejujuranmu
Tak inginkah kau menterjemahkan keadaan ini
Hingga tak ada prasangka tersisa
Aku ingin melihat kenyataan secara jujur
Dan kusandingkan ia dengan iharapanku
Kuharap do'a mengikat keduanya
»»  READMORE...

Jumat, 16 September 2016

Aku Belum Cerdas

Alangkah bodohnya diri ini
Saat keadaan mempersilahkan
Begitu singkat
Namun menusuk fikiran
Kendaliku menghilang
Lepas ke Negeri Antah berantah
Aku mencoba memperbaiki keadaan
Dari setiap hal kecil yang ku sepelekan
Maafkan diri ini Tuhan
Aku belum mampu memanfaatkan waktuku
Kutunggu petunjuk, pertolongan dan bimbinganMu
»»  READMORE...

Keadaan

Engkau bisa selalu dekat
Engkau bisa selalu bersama
Engkau pun bisa selalu disampingku
Jika kau tahu
Akupun selalu berharap begitu

Namun
Perlu kau ketahui
Waktu tak selalu ada di pihak kita
Ruang pun tak selalu mengizinkan kita
untuk sekedar bertatap muka
Atau hanya sedetik bersua

Itu semua akan terlaksana
Jika izin Sang Pencipta telah tiba.
»»  READMORE...

Selasa, 06 September 2016

Selintas Lalu

Sekejap kedatangan itu
Meninggalkan bayang-bayang rindu
Hadir kembali dalam mimpi
Begitu jelas
Begitu nyata

Hingga mengungkap rasa yang sama
Apakah ini nyata?
Kenapa tiba-tiba hilang
Sadarpun hadir
Ketika dingin menyibak selimut
Bersama teriakan kokok ayam
Engkau pergi lagi


Ruang Peraduan
5/9/2016
»»  READMORE...

Senja

salah satu alat ukur kesejahteraan saat ini adalah uang
Ia juga menjadi alat ukur tinggi rendahnya martabat seseorang
tak sedikit orang yang mendekatimu dimasa kau masih begitu akrab dengan lemari ajaib,
yang bisa mengabulkan permintaan sesuai tombol yang kamu tekan
tapi menjauh ketika setelah kau tak memiliki sisa angka dalam lemari itu.
gagasan besarmu tak kan laku jika kau belum menjadi hambanya
jika kau bersahabat atas dasar makhluk ini
persahabatanmu tak lebih lama dari kilatan halilintar saat hujan
tak lebih besar dari kutu cebol
dan hanya akan sekuat galih pohon bambu
makhluk ini penting
namun ingatlah, ia hanya alat
bukan tujuan
Tetapkan tujuanmu, pakailah alat ini
namun jangan engkau mengubah tujuanmu dikala kau tak memilikinya
mungkin
banyak orang yang akan meragukanmu
namun keyakinan akan dirimu sendiri jauh lebih penting
daripada ocehan makhluk-makhluk itu
Jika Tuhan mengizinkan
suatu saat kau akan tahu
betapa remehnya Dunia ini


Senja di masjid Insur!
06/09/2016
»»  READMORE...

Minggu, 19 Juni 2016

Tinta Dan Pena

Kala tinta tlah terpisah dari pena
Saat perasaan bertarung dengan logika
Dan sang waktupun berlalu begitu saja
Inginku menghentikanmu sejenak
Berhenti dan memintamu kembali
Kembali kedalam ruang tamu
Dalam diskusi kecil
Yang tlah mengawali semua cerita ini
Ya.... Semua...
Semua yang akan kutulis dengan pena
Namun...
Sang pena kini tlah terpisah dari tintanya
Tinta yang akan menggoreskan dahsyatnya makna cinta
Tinta yang akan mengajarkan arti sebuah kepercayaan
Tinta yang akan menggambarkan arti kejujuran
Dan tinta yang akan melukiskan arti kesetiaan

Suatu saat Pena dan Tinta akan bersatu
Untuk menuliskan catatan indah dalam lembar sejarah
Kuyakin itu...

tooricg
27 juni 2014
»»  READMORE...

Karena Untuk Indah Tak Harus Mewah

Tak terasa waktu terus berjalan, tanpa mempedulikan mereka yang selalu terkejar atau bahkan terlindas olehnya. Suka dan duka memang selalu menjadi penghias cerita dalam perjalanan hidup ini. Ia memang sudah menjadi warna dalam lukisan kehidupan. Lukisan adalah bahasa sastra dalam bentuk gambar, jika warna merupakan bagian dari sastra dalam gambar, begitupun suka dan duka dalam hidup ini. Tak semua yang kita mau sudah tersedia, dan bukan menjadi tugas manusia untuk tinggal hanya menikmati apa yang ada, tanpa meramu bahan-bahan yang sudah disediakan dalam hidup. Tugas kita sebagai seorang hewan yang berpikir adalah meramu  bahan-bahan yang ada hingga menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya.
                Jika kita pada suatu waktu berada dalam tugas untuk memberi warna ‘suka’ dalam hidup, tidak pantas terlalu bangga hingga melupakan bumi dimana kita berpijak, sang kulit yang telah membungkus kacang dan juga sang ibu yang telah memberikan air susunya. Tak pantas seekor siput lepas dari cangkangnya, karena kesempurnaan sang siput ada dalam kesatuan antara tubuh dan cangkangnya. Begitupun jika kita sedang bertugas untuk memberi warna ‘duka’, jangan menjadikan diri untuk berputus asa. Seolah tak ada lagi harapan untuk bergantung, seolah tak sesaatpun engkau berhak untuk mendapat kebahagiaan, itu hanyalah pikiran sempitmu saja. Duka, kegagalan, kesedihan, bukanlah diri anda, ia tak lain hanyalah sebuah peristiwa yang segera lenyap dimakan oleh sang waktu. Percayalah bahwa mentari pagi esok hari akan terbit dan membawa kebahagiaan untuk menyempurnakan ‘gambar kehidupan’ yang telah kita lukis.

#bersambung....
»»  READMORE...

Selasa, 17 Mei 2016

SUKA ATAU BENCI ?

Pagi ini aku berada di Perpustakaan kampus, sekedar untuk menghilangkan penat dan mencari  informasi terbaru. Justru yang kudapatkan malah membuat aku penat berlebih lagi. Sehari yang lalu aku menulis sebuah artikel. Artikel yang merupakan buah dari opiniku itu kukerjakan di sebuah musholla di timur Kampus Merah. Sendiri, tidak ada teman ketika aku menulis artikel itu. Cuma untuk beberapa saat aku memang bertemu dengan beberapa orang yang sempat mampir disana. Dilanjutkan diskusi menyangkut beberapa hal. Dalam tulisanku itu aku menceritakan bahwa ada kerinduan mendalam terhadap sebuah ruangan yang didalamnya sudah jarang sekali terjamah oleh sekelompok orang yang dulu sering kutemui. Betapa rindunya aku dengan mereka, karena ketika disana aku bertemu dan membicarakan sesuatu hal untuk beberapa langkah kedepan. Namun kini ruangan itu telah sepi tak seperti sebelumnya. Aku gambarkan saking sepinya dengan sebuah judul “Bahkan Jarum Jam Pun Enggan Hidup”.
Ba’da maghrib, setelah sholat maghrib, aku bergegas menuju tempat print, meminjam motor salah seorang teman. Dengan berbekal uang seadanya, aku mencetak beberapa lembar tugas pribadi dan juga artikel itu. Rencanaku artikel tersebut akan kupasang dalam ruangan yang semakin sepi itu. Print sudah selesai hingga kemudian aku langsung menuju ke ruangan itu dan kupasang pada mading itu. Lalu aku meninggalkannya untuk melakukan tugas pribadiku selanjutnya. Malam ini bersama teman angkatan dibawahku, Awan namanya berencana akan bertemu salah satu dosen Fisipol(meskipun aku bukan orang Fisip). Ada hal yang hendak aku diskusikan.
Dosen Fisip yang hendak kutemui ternyata sedang tidak berada dirumah. Beliau sedang ada acara keluarga, dan baru bisa bertemu di hari berikutnya. Kemudian aku menuju ke kontrakan bersama kawan-kawan untuk membahas beberapa hal terkait komitmen GIM. Diantaranya, ada diskusi rutin bersama mereka. Dengan komitmen bacaan yang sudah disetting sedemikian rupa. Selesai rapat dengan mereka akupun pergi ke kampus. Untuk membetulkan laptopku yang lagi sakit. Sebelumnya kusempatkan untuk mampir dulu di tempat yang kumaksud di awal tadi. Sedikit kaget setengah kecewa, tulisanku hilang entah kemana. Aku juga tak tahu, siapa yang sudah mengambilnya. Aku coba berhipotesa bahwa ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, ada orang yang suka tulisanku kemudian mengambilnya. Untuk digunakan secara pribadi(ini jika dasar hipotesaku adalah khusnudzon, dan itu memang yang kulakukan). Yang kedua adalah ada orang yang kurang suka dengan tulisanku, kemudian mengambil dan mungkin di simpan atau dibuangnya. Tapi sepertinya, yang kedua inilah yang lebih kuat. Meskipun dalam hati aku tetap mecoba untuk memilih yang pertama sebagai solusi yang lebih positif.
Aku mencoba untuk sabar, langsung aku bersama kawanku menuju kampus hingga kurang lebih pukul 22:00. Selesai urusanku disana, aku kemudian kembali ketempat dimana artikelku berada. Dengan harapan jika ada orang yang telah mengambilnya sudi untuk mengembalikan. Betapa tidak menghargai karya seseorang jika dia telah berlaku sedemikian. Aku tidur ditempat itu untuk mengobati kerinduanku dengan ruangan itu hingga pagi. Namun tak seorang pun datang mengembalikan tulisanku. Teringat sebuah kata dalam buku yang pernah kubaca. Seorang terpelajar harus adil semenjak dalam fikiran, apalagi dalam tindakan. Sudah adilkah perilaku ini, atau mungkin aku yang kurang adil. Tapi tulisan tersebut tidak ditujukan kepada seseorang, melainkan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kolektif kawan-kawan yang dulu sering datang ke ‘ruang itu’. Meskipun begitu, aku tidak seperti para pembenci yang selalu melihat dunia ini dengan kacamata benci. Jika hidup ini selalu diisi dengan benci, dengan derita karna kebencian. Itu adalah orang yang sakit.  Dan aku tidak mau menjadi orang sakit.
Hidup ini harus berani melihat realita. Jangan menjadi penakut untuk melihatnya. Untuk melihat saja kita takut, apalagi untuk menjalani? Tindakan yang sedemikian itu ada karena ada faktor, satu diantaranya adalah karena tidak berani melihat kenyataan yang ada. Hingga akhirna berusaha untuk menghilangkan realita dari kehidupan ini dengan bertindak sedemikian tak adil.
                                                                                
                                                                Perpustakaan, 17/05/2016
                                                                           Mas to’o
»»  READMORE...