Terimakasih atas kunjungan anda

Kamis, 21 Juni 2018

Berangkat kembali

Siang ini adalah perjalananku menuju Jakarta, kembali kepada rutinitas, kerja. Nuansa lebaran sudah sedikit berkurang karena sudah masuk hari ke tujuh. Jika aku di desa, biasanya ada 'lebaran kupat' (lebaran ketupat). Di tiap rumah ada digantung ketupat didepan rumahnya. Makna filosofinya ada, hanya aku kurang begitu mengerti.
Lama sudah aku tak merasakan lebaran kupat di desa, entahlah, terakhir kali aku mengikuti mungkin saat aku masih SMA. Atau satu tahun setelahnya, aku lupa. Kini semua telah berbeda, atau cuma perasaanku saja yang merasa demikian....biarkanlah...

»»  READMORE...

Minggu, 20 Mei 2018

Hari Kebangkitan Nasional

Hari ini, ada peringatan hari Kebangkitan Nasional. Pada hari ini pula, Tsabita, anak perempuanku tercinta, saat pagi menjelang ia terbangun dari tidurnya. Tak seperti biasa, kali ini dengan berusaha sekuat tenaga, ia belajar duduk sendiri dan, berhasil. Selamat anakku, engkau berhasil bangkit dari tidurmu. Dengan kekuatanmu sendiri. Engkau telah berhasil menaklukkan dirimu saat pagi buta, masih banyak hal yang perlu kau lakukan. Teruslah belajar, nantinya dari hasil belajarmu itu, engkau akan bisa menolong dirimu sendiri dan oranglain.

Selamat belajar, Nak. Hari ini aku pun harus belajar padamu, bagaimana cara menaklukkan diri, yg kadang begitu bengal ini. Bismillah

»»  READMORE...

Senin, 19 Maret 2018

Rindu

Satu kata yg ada dlm pikiranku saat ini. Rindu, inilah dia. Ia tiba2 menjelma menjadi subjek yg menguasaiku. Begitu kuat, serta terasa begitu sulit untuk mengikisnya.

Melihat polah tingkah anak pertamaku, tatapannya yg begitu lucu dan menggemaskan, membuat aku tak jemu untuk berulangkali memutar rekaman videonya. Mungkin aku terlalu berharap, dengan melihat rekaman tersebut akan sedikitnya melawan rasa rindu yang ada. Alih-alih mengurangi, yang ada justru malah semakin tak terbendung.

Kapan-kapan kita bermain bersama ya, Nak. Bersama ibumu yg selalu memberikan kasihnya padamu, juga pada bapakmu ini. Maafkan aku yg belum bs mendampingimu di awal pertumbuhanmu ini. Percayalah, perkara dunia tak akan dapat memisahkan kita bersama. Ini hanya sebentar, mungkin dlm hitungan hari atau bulan. Bapak berharap demikian. Karena, aku berkewajiban mendidikmu. Maka berat rasanya jika jauh darimu.

I love you all

»»  READMORE...

Senin, 05 Maret 2018

Big Boss

Baik-baik disana Big Boss, segera sembuh dan mari bercerita kembali tentang masa-masa mudamu yang penuh dengan cinta, persaudaraan, keberanian, kebahagiaan, bahkan tak jarang kekonyolan, hingga senyum dan tawa kita merekah, bak bunga Wijaya Kusuma di halaman rumah kita.
:-) :-) :-)
Ada satu yang tak kutemui dari barisan ceritamu yaitu Kesedihan, barangkali engkau terlalu lihai menyembunyikan dalam tiap kalimatmu. Sehingga aku tak kau beri izin untuk ikut menikmatinya.
Aku mungkin tak sepandai dirimu dalam menikmati keindahan dan kebahagiaan hidup, aku masih perlu banyak belajar padamu. Aku muridmu, juga anak biologismu.
Dari deretan cerita itu lantas engkau bilang bahwa itu bisa dijadikan sebagai "Bahan Kajian".
Kita rasanya telah sepakat, meskipun tak terucap, bahwa kita bukan malaikat, juga bukan setan, kita adalah manusia dengan akal sehatnya. Dan itulah anugerah Tuhan yang membedakan kita dengan makhluk yg lain.
Terimakasih buat obrolan indahnya semalam, juga tadi siang.
I love you Mr. Paimin

Diatas kereta Jayakarta,
Menuju Jayakarta
04 Maret 2018 18:40

»»  READMORE...

Kamis, 23 Februari 2017

Senja di Masjid Insuri

salah satu alat ukur kesejahteraan saat ini adalah uang
Ia juga menjadi alat ukur tinggi rendahnya martabat seseorang
tak sedikit orang yang mendekatimu dimasa kau masih begitu akrab dengan lemari ajaib,
yang bisa mengabulkan permintaan sesuai tombol yang kamu tekan
tapi menjauh ketika setelah kau tak memiliki sisa angka dalam lemari itu.
gagasan besarmu tak kan laku jika kau belum menjadi hambanya
jika kau bersahabat atas dasar makhluk ini
persahabatanmu tak lebih lama dari kilatan halilintar saat hujan
tak lebih besar dari kutu cebol
dan hanya akan sekuat galih pohon bambu
makhluk ini penting
namun ingatlah, ia hanya alat
bukan tujuan
Tetapkan tujuanmu, pakailah alat ini
namun jangan engkau mengubah tujuanmu dikala kau tak memilikinya
mungkin
banyak orang yang akan meragukanmu
namun keyakinan akan dirimu sendiri jauh lebih penting
daripada ocehan makhluk-makhluk itu
Jika Tuhan mengizinkan
suatu saat kau akan tahu
betapa remehnya Dunia ini


Senja di masjid Insur!
06/09/2016
»»  READMORE...