Terimakasih atas kunjungan anda

Selasa, 17 Mei 2016

SUKA ATAU BENCI ?

Pagi ini aku berada di Perpustakaan kampus, sekedar untuk menghilangkan penat dan mencari  informasi terbaru. Justru yang kudapatkan malah membuat aku penat berlebih lagi. Sehari yang lalu aku menulis sebuah artikel. Artikel yang merupakan buah dari opiniku itu kukerjakan di sebuah musholla di timur Kampus Merah. Sendiri, tidak ada teman ketika aku menulis artikel itu. Cuma untuk beberapa saat aku memang bertemu dengan beberapa orang yang sempat mampir disana. Dilanjutkan diskusi menyangkut beberapa hal. Dalam tulisanku itu aku menceritakan bahwa ada kerinduan mendalam terhadap sebuah ruangan yang didalamnya sudah jarang sekali terjamah oleh sekelompok orang yang dulu sering kutemui. Betapa rindunya aku dengan mereka, karena ketika disana aku bertemu dan membicarakan sesuatu hal untuk beberapa langkah kedepan. Namun kini ruangan itu telah sepi tak seperti sebelumnya. Aku gambarkan saking sepinya dengan sebuah judul “Bahkan Jarum Jam Pun Enggan Hidup”.
Ba’da maghrib, setelah sholat maghrib, aku bergegas menuju tempat print, meminjam motor salah seorang teman. Dengan berbekal uang seadanya, aku mencetak beberapa lembar tugas pribadi dan juga artikel itu. Rencanaku artikel tersebut akan kupasang dalam ruangan yang semakin sepi itu. Print sudah selesai hingga kemudian aku langsung menuju ke ruangan itu dan kupasang pada mading itu. Lalu aku meninggalkannya untuk melakukan tugas pribadiku selanjutnya. Malam ini bersama teman angkatan dibawahku, Awan namanya berencana akan bertemu salah satu dosen Fisipol(meskipun aku bukan orang Fisip). Ada hal yang hendak aku diskusikan.
Dosen Fisip yang hendak kutemui ternyata sedang tidak berada dirumah. Beliau sedang ada acara keluarga, dan baru bisa bertemu di hari berikutnya. Kemudian aku menuju ke kontrakan bersama kawan-kawan untuk membahas beberapa hal terkait komitmen GIM. Diantaranya, ada diskusi rutin bersama mereka. Dengan komitmen bacaan yang sudah disetting sedemikian rupa. Selesai rapat dengan mereka akupun pergi ke kampus. Untuk membetulkan laptopku yang lagi sakit. Sebelumnya kusempatkan untuk mampir dulu di tempat yang kumaksud di awal tadi. Sedikit kaget setengah kecewa, tulisanku hilang entah kemana. Aku juga tak tahu, siapa yang sudah mengambilnya. Aku coba berhipotesa bahwa ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, ada orang yang suka tulisanku kemudian mengambilnya. Untuk digunakan secara pribadi(ini jika dasar hipotesaku adalah khusnudzon, dan itu memang yang kulakukan). Yang kedua adalah ada orang yang kurang suka dengan tulisanku, kemudian mengambil dan mungkin di simpan atau dibuangnya. Tapi sepertinya, yang kedua inilah yang lebih kuat. Meskipun dalam hati aku tetap mecoba untuk memilih yang pertama sebagai solusi yang lebih positif.
Aku mencoba untuk sabar, langsung aku bersama kawanku menuju kampus hingga kurang lebih pukul 22:00. Selesai urusanku disana, aku kemudian kembali ketempat dimana artikelku berada. Dengan harapan jika ada orang yang telah mengambilnya sudi untuk mengembalikan. Betapa tidak menghargai karya seseorang jika dia telah berlaku sedemikian. Aku tidur ditempat itu untuk mengobati kerinduanku dengan ruangan itu hingga pagi. Namun tak seorang pun datang mengembalikan tulisanku. Teringat sebuah kata dalam buku yang pernah kubaca. Seorang terpelajar harus adil semenjak dalam fikiran, apalagi dalam tindakan. Sudah adilkah perilaku ini, atau mungkin aku yang kurang adil. Tapi tulisan tersebut tidak ditujukan kepada seseorang, melainkan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran kolektif kawan-kawan yang dulu sering datang ke ‘ruang itu’. Meskipun begitu, aku tidak seperti para pembenci yang selalu melihat dunia ini dengan kacamata benci. Jika hidup ini selalu diisi dengan benci, dengan derita karna kebencian. Itu adalah orang yang sakit.  Dan aku tidak mau menjadi orang sakit.
Hidup ini harus berani melihat realita. Jangan menjadi penakut untuk melihatnya. Untuk melihat saja kita takut, apalagi untuk menjalani? Tindakan yang sedemikian itu ada karena ada faktor, satu diantaranya adalah karena tidak berani melihat kenyataan yang ada. Hingga akhirna berusaha untuk menghilangkan realita dari kehidupan ini dengan bertindak sedemikian tak adil.
                                                                                
                                                                Perpustakaan, 17/05/2016
                                                                           Mas to’o